Showing posts with label marriage. Show all posts
Showing posts with label marriage. Show all posts

Saturday, July 23, 2016

All Of Me Love All Of You (Wedding Note)

Saya(Sambil duduk pegang hp): Bentar ya mas istirahat dulu ochienya. Tawaf di rumah baru beres sekali.
Mr Rius: ihhh bergerak dong bergerak kitamah gak boleh diem. Kerja kerja kerja kata Jokowi juga.
Saya(ngakak habis): Huahahaha mas nyang onoh kerja juga tetep dihujat tetap mo dilengserin tetap dibilang planga plongo bego.


Itu yah cuman salah satu obrolan absurd antara saya dan mr rius. Obrolan gak jelas beginih ini lah yang membuat hubunganngan saya dengan mr rius jadi spesial meski gak selalu pake telor *jadi pengen martabakkkkk huhuhu*

Live is a mysterious path. For me it is

Gimana enggak. Kisah kami tuh bukan kisah cinta yang mendayu-dayu dan panjang bak sinetron tersanjung yang tokohnya dibikin menderita berkepanjangan sampe udah ganti pemain berapa kali atau sinetron cinta fitri yang sukses menjodohkan para pemainnya. Tapi yaaaa gitu. We are made for each other eh i guest sih huahahaha *toyor kepala sendiri*

Jadi sifat kami berdua itu bagaikan langit dan bumi. Situ di selatan sini di utara. Saya yang senang have fun disandingkan dengan mr rius yang segala diperhitungkan. saya yang go mad mr rius yang engke kumaha?

Tapi disitu seninya keles boy *benerin kerah*

Sifat saya yang kumaha engke seringkali bisa diredam oleh sifat perhitungannya mr rius. Jadilah sekarang seiring usia pernikahan kami saya bisa sedikit lebih bijak *ehemmmm*
Sifat kikir saya juga jadi tumbuh setelah bareng mr rius. hahahaha alesannnnn udah dari dulu juga kikirnya sok sok an nyalahin misua *slepet nih*

Intinya sih keberadaan kami satu sama lainnya justru menjadi penguat apa yang sudah ada diantara kami. 
" Rock my world into the sunlight Make this dream the best I've ever known Dirty dancing in the moonlight Take me down like I'm a domino' *karaokean yuk hahaha*

Apa jalannya selalu mulus? Ya enggak kaliiii.....Dikira jalannya udah kayak muka artis hollywood yang licin gara-gara botox apa ya?

Bukan sekali dua kadang saya merasa ingin menyerah buat lanjutin perjalanan kami. Kalau ini yang terjadi biasanya itu gara-gara saya patah hati sama mr rius. *ambil tisu*

Jadi ya seperti yang saya bilang di awal saya dan mr rius tuh bagai langit dan bumi. Bedanya jauhhhhh pake banget dan pisan kuadrat. Perbedaan yang paling mendasar adalah saya yang orangnya ekspresif yang kalau marah ya udah marah aja musti berhadapan dengan mr rius yang lempeng jaya dan jadi tukang tembok. Gak ngerti juga dimana doi belajar nembok uya secara yang saya tau mr rius itu lulusan ilmu komunikasi hahahahaha.

Aksi diam dia itu yang bikin beteh. Dan kalau udah beteh bukannya dibikin istrinya gak beteh lagi tapi malah disodorin arang panas hahahaha *sodorin sate*

Naik turun ala roller coaster memang bagian dan seni dari kehidupan. begitu juga dengan kehidupan berumah tangga *sodorin mic* after all being married is .... kesediaan untuk jatuh, patah hati dan sakit hati pada orang yg sama berkali-kali.



Sunday, June 8, 2014

Tian, You Had Me At Hello!

Bahagia. Kata itulah yang selama dua tahun ini menghiasi dang melengkapi kehidupan saya dan mr rius. Sejak kehadiran Tian dalam hidup kami, rasanya segalanya menjadi begitu indah dan membahagiakan. Oh iya, pasti ada juga dong masa-masa bete, kurang tidur ataupun masa-masa susah lainnya. Tapi ya semua itu gak ada artinya kalau melihat apa yang kami miliki saat ini bersama Tian.

===================================================
You had me at Hello. Itu kalimat yang paling bisa menggambarkan perasaan saya pada Tian. Sejak pertama kali melihatnyaa di layar monitor USG DSOG, saya langsung jatuh cinta padanya. Meskipun saat itu usia kandungan saya baru 1 bulan dan Tian masih terlihat hanya kantung saja belum berbentuk. Tapi mendengar detakan kehidupan dari rahim saya membuat saya langsung merasa dia selalu dekat dan ada buat saya. Dan itulah yang memang terasa.

Kehamilan Tian di trisemester pertama memang bukanlah hal yang mudah. Saya ngalamain apa yang disebut hyperemesis. Dan itu membuat saya justru kehilangan berat badan sampai 8 kg di awal kehamilan. Muntah dan mual disepanjang waktu jadi keseharian saya. Malahan di bulan pertama saya sampai diultimatum dokter untuk masuk RS karena tak ada sedikitpun makanan yang bisa masuk ke perut saya. Boro-boro masuk. Baru nyampe tenggorokan saja sudah langsung keluar lagi.

Banyak cara saya lakukan untuk membuat makanan berjaya samapai di usus. Mulai dari gak akan pedes sama sekali, minum wedang jahe, menghirup minyak kayu putih samapai menutup rapat-rapat kamar agar bau makanan tidak samapai di hidung saya. Hahahaha.....alhamdulillah sukses gagalnya. Bukan hanya gak bisa makan, melihat makanan saja bikin saya muntah. Padahal hanya di tayangan TV. Seolah-olah bau masakannya tercium sampai di hidung saya. Hadeuhhh....

Obat anti mual dari dokterpun gak mujarab. Meskipun saya suda bergenti-ganti merek obat dengan dosis yang katanya terus ditinggikan. Gak ngaruh.

Awalnya saya yakin ini semua bakalan selesai di trisemester pertama saja. Tapiiiii....sukses tuh berlanjut sampai saat saya mau melahirkan hahahahahaha. Hanya saja keadaan jauh lebih bisa saya kontrol ketimbang di bulan-bulan pertama.

Keberhasilan saya mengendalikan keinginan memuntahkan semua makanan yang masuk sebetulnya seiring sejalan dengan perkenalan saya pada Getle Birth. Perkenalan yang juga secara tidak sengaja terjadi.

Saat itu saya iseng browsing soal melahirkan. Dan saya nemu soal water birth. Cari punya cari saya nemu tuh kalau di Bandung ada jga ternyata yang melayani melahirkan di air ini. Berbekal baca di laman facebook milik provider yang melayani water birth inilah saya meemukan istilah baru. Gentle Birth. Perkenalanpun saya lanjutkan lebih dala dengan membaca tulisannya mas Reza Gunawan dan Dewi Lestari.

Membaca tulisan mereka itu membuat saya menangis. Rasanya kok bahagia banget ya? Rasanya kok indah banget ya?

Sayapun makin rajin membaca soal Gentle Birth. Meskipun banyak temen yang bilang hamil sayakan masih muda kok udah baca soal melahirkannya? Hey...bukannya kalau hamil ujungnya di melahirkan juga?Jadi rasanya sih gak salah. Lagian kemudian saya menemukan banyak hal kalau ternyata Gentle Birth gak melulu soal melahirkannya. Konsep inikan harus dimulai sejak awal. Sejak "mau bikin" malah harusnya hehehehe. Meskipun merasa agak terlambat, tapi saya merasa masih punya banyak kesempatan buat mengejar ketertinggalan soal Gentle Birth ini.

Langkah berikutnya setelah encari banyak referensi soal Gentle Birth adalah mengajak suami saya terutama buat tahu apa dan bagaimana Gentle Birth itu. Mulailah saya mengcopykan banyak bacaan buat Mr. Rius. Mengajaknya berdiskusi hingga mengajaknya ke seminar Gntle Birth yang waktu diadakan di Bandung oleh provider Water Birth yang saya ceritakan di awal tadi. Disanalah saya mulai mengenal Mbak Dyah Pratitasari. Saya juga ketemu sama bidan Tantri dan Bidan Okke. Senangnya bisa belajar banyak hal.

Seiring berjalanya waktu, saya mulai aktif membaca bukunya Bidan Yessie, laman Bidan Kita sampai ikut seminar di Rs Bunda. Saya, Mr Rius dan seorang teman yang hamilnya berengan jadi rajin belajar untuk mempersiapkan yang terbaik buat buah hati kami.

Gentle Birt membuat saya memahami apa maunya "Utun" di perut saya. Saya jadi tahu apa yang dia pengen makan da apa yang tidak. Dengen begitu frekuensi muntah saya jadi berkurang meskipun masih tetap muntah ya hahahaha. Saya juga masih bisa menghadapi dengan tenang situasi ketika air ketuban saya tiba-tiba rembes di bulan ke-8. Padahal saat itu saya hanya tinggal seorang diri di kamar kosan. Oh ya selama hamil saya tinggal sendiria di Jakarta karena Mr Rius tinggal di Bandung. Gentle Birth juga membuat saya "berdamai" dengan keadaan da rasa marah saya pada Tuhan, mamah dan keadaan. Maklum, ini kehamilan pertama saya dan saat itu mamah sudah semakin parah terserang dimentia. Dimentia yang diidap mamah ini membuat mamah tak lagi mampu mendampingi anak-anaknya. Jangankan mendampingi, mengingat anak-anaknyapun sudah tak bisa. Saya baru menyadari kemudian, sebagian emesis saya justru diakibatkan dari rasa amarah saya yang begitu besar pada keadaan ini.

Setiap kali periksa kandungan rasanya iriiiii sekali elihat orang lain yang datang ditemani oleh orang tuanya terutama ibu. Sementara saya? cukup diantar Mr Rius. Eh segitu juga Alhamdulillah ya, masih punya suami siaga hihihihi.

Sampailahsaya di minggu 39 dan utun masih belum enunjukkan tanda-tanda mau ketemu. Cemas? Pastilah. Sementara teman sekantor yang hamilnya berengan malah udah brojol duluan. Saya juga tinggal sendirian di Jakarta jauh dari keluarga dan suami. Akhirnya di minggu ini saya memutuska mengambil cuti melahirkan dan mengemasi segala barang-barang untuk pulang ke Bandung.

Bingung, cemas, takut. Wahhh semua jadi satu deh di masa-masa penantian ini. Berenang, jalan pagi, makan durian, makan rujak ekstra pedas sampai sibuk berbelly dance jadi menu utama selama cuti. Tak ada tanda-tanda utun mau ketemu saya.Ahh rupanya kesabaran saya diuji lagi nih.

Lucunya, saya pernah membujuk Utun buat lahiran di tanggal 6 Juni. Saya pengen banget Utun lahir sama dengan Presiden pertama RI. Tanggal 5 Juni waktnya saya kontrol ke Bidan Okke. Oh ya, sejak hamil minggu ke 37 saya berhenti ketemu DSOG dan saya rajin ketemu bidan. Luunya, saat mau menentukan kira-kira dimana ya saya akan ketemuan dengan Utun, saya dan Mr Rius mendatangi hingga 5 bidan dan 3 Rs Bersalin hahahahahaha. Eh itukan sesuai dengan petunjuk di Gentel Birth. Wawancarai dulu provider anda, cari tahu bagaimaa nanti pelaksanaan hari H nya. Ini juga kami lakukan sesuai dengan Birth Plan yang kami buat. Artinya meskipun kami sudah memilih untuk dibantu Bidan Okke, tapi kalau kenyataannya kami gak jodoh dengan bidan Okke, ya kami harus siap dengan rencana lainnya. Soal Birth Plan juga sudah kami susun dengan mereka yang kami pilih buat membantu kelahiran utun. Termasuk jika ternyata saya harus dioperasi.

Saat kontrol tanggal 4 Juni itu, sambil menunggu waktu kontrol, saya dan Mr Rius naik motor hingga ke Lembang. Huahahahaha ibu hamil tuasenangnya motor-motoran. Gak mual? Di jalan sih enggak. Tapi begitu sampai, ya langsung muntah xixixixi. Begitu samapai dan kami mau sholat, Bidan telepn fan bilang sudah bisa kontrol. Jadilah begitu samapai Lembang kami balik lagi naik motor ke Dago buat kontrol bidan. Ckckkckck......ibu hamil yang aneh.

Namun rupanya masi belum ada tanda bukaan sama sekali. Sedih? Iya dong

Sayapun sadar kemudian dan minta maaf sama utun. Saya yakin utun akan memilih sendiri waktu yang tepat buat ketemuan. Oh ya sedari awal saya sudah pernah bilang sama utun buat kasih tanda kalau mau lahiran. Misalnya nendang saya 3x dan saya bakalan pp ke kamar mandi. Tapi gak tau kenapa kok saya malah lupa ya sama hal ini?

Tanggal 6 Juni, sore hari, saya sengaja jalan kaki ke mini market dekat kompleks rumah. Berjalan kaki tentunya. Perjalanan sejauh 5km itu saya isi dengan ngobrol bareng utun. Biar ah dianggap gak waras karena ngobrol sendiri, yang penting bonding kami kuat hahahaha. Malam harinya hujan turun dengan deras dan membuat harus Mr Rius tidur di rumah orang tuanya sementara saya tidur di rumah orang tua saya. Sepanjang malam saya gak bisa tidur. Bolak balik ke kamar mandi. Pengen BAB. Herannya kok keluarnya cuman sedikit-sedikit ya? Padahal mulesnya banget. Jam 2 pagi tanggal 7 Juni saya baru sadar. Alamak janga-jangan ini tanda-tanda cinta dari Utun. Soalnya, sore hari saya juga sempet nemuin flek di celana meski hanya sedikit sekali. Saat itu saya abaika saja pertanda itu. Sayapun telepon Mr Rius dan bilang kayaknya besok musti ketemu bidan lagi deh. Mulas dan ada flek.

Pagi hari Mr Rius datang. Dan mulasnya makin menjadi. Siang hari saat kontrol ternyata benar, saya sudah bukaa 2. Ahhh senangnya. Meskipun sadarbelum tentu juga bisa ketemu epat. Tapi saya optimis segera ketemu Utun.

Sambil menunggu waktu, saya dan Mr Rius denga diantar teteh dan suaminya serta ponakan jalan-jalan sepanjang Pasteur hingga Antapani Bandung. Tadinya mau pulang dulu tapi rupanya Gelombang cinta Utun makin besar dan teteh menyarankan buat menunggu di tempat bidan aja. Jadilah saya sudah mondok dari ja 4 sore di tempat bersalin. Dan sudah bukaan 4.

Dengan kamar bersalin yang cukup cozy, didampingi keluarga bahkan ponakan yang baru berumur 1,5 tahun saya menyambut waktu kedatangan utun. Di tengah gelombang cinta yang makin terasa, saya masih sempat tertidur. Sakit? Hemmm iya sih tapi bidan dan mr rius terus mengingatkan buat nafas dan tenang. Mungkin karena ada musik pegiring dari Richard Clayderman dan The Beatles, rasa sakitnya menjadi jauhhh berkurang. Rupanya utun juga gak sabar ketemu ambunya. Maka bukaan komplitpun sudah terjadi pas jam 12 malam. Kira-kira sih bukaan yang saya alami terjadi setiap sejam.Crowning pertama utun saya melihat rambutnya yang lebat dan hitam. Haduhhhh jadi gak sabar xixixixixixi.

Lucunya pas bukaannya komplit, saya malaham enggak pengen lagi tuh buat mengejan hehehehe. Sampai kemudian akhirnya tepat pukul 00.30 pagi tanggal 8 Juni 2012 utun pun meluncur dan lansung di simpan di dada dan dekapan saya.

Hai handsome. It's mom. Ini Ambu sayang dan itu Abi.
Tian sesaat setelah dilahirkan


Senang, lelah, bahagia dan semuaaaaaa rasa tumplek jadi satu. Saking sibuknya memandangi tian dan memulai proses IMD, saya samapai gak ngerasain waktu bidan harus menjahit. Iya, saya masih harus dijahit juga meski hanya 2 gak gak terlalu panjang. Tak mengapa lah yang penting Tian lahir dengan sehat dan selamat.

Utun lahir pada saat pila Eropa dimulai. Itu sebabnya kami memberinya nama Bastian. Yah sedikit seperti Bastian Schweinsteiger, pemai bola asal Jerman.

Kami memilih proses burning cod saat melepaskan Tian dari kakak plasenta. Proses burning dilakukan setelah 10 jam kelahiran Tian.
kakak plasenta


===========================================

Saya tahu banyak hal yang tidak sempurna dari proses kelahira Tian kalau dilihat dari metoda Gentle Birth. Saya masih mengejan, saya juga masih mengalami sobekan. Tapiii itu suda cukup. Gentle Birth bagi saya membuat saya memahmi apa arti tanda-tanda yang diberikan oleh tubuh saya. Apakah ia menolak atau menginginkan sesuatu.Gentle Birth juga membuat saya jauh lebi bersabar. Dan sungguh ilmu itu terpakai samapai saat ini. Meski terkadang saya kesal dan marah pada Tian, namun saya segera sadar kalau pasti ada sesuatu yang mungkin diinginkan Tian yang saya gak mengerti. Gentele Birth membuat saya mampu memahami, meski gak selalu, apa mau Tian.

Saya ingat, saat pulang dari tempat bersalin, 52 jam setelah kelahirannya, Tian menangis terus. Disusui gak mau. Digendong tetap menangis. Sayapun panik. Semua keluarga yang saat itu menengok ke rumah mengajukan pemikiran mereka masing-masing. Ahhhh riweuh bin ribet deh semua. Samapai pusing dan membuat saya down. Sayapun menangis. Haduhhh baby blues nih pikiran saya. Tapi saya ingat kemudian hal yang biasa saya lakukan saat hamil setiap kali saya mual dan muntah hebat, ngobrol dengan Tian.

Pintu kamar saya kunci. Mr Rius saya minta menggendong Tin. Saya diam sesaat. Menghela nafas panjang. Mengubah pikiran positif menjadi negatif. Saya setel lagu yang biasa saya dengarkan saat melakukan relaksasi dan ngobrol dengan Tian. Tianpun saya gendong kembali. "Ade Tian sayang, maafkan ambu ya nak. Ambu enggak ngerti maunya ade apa samapai ade menangis begini. Ambu sayang sekali sama ade. Ini pertama kalinya ambu jadi ibu. Ade juga pertama kalinyakan jadi anak dan lahir ke dunia? Nah gimana kalau kita sama-sama belajar? Ambu belajar ngerti apa maunya ade dan ade belajar mengerti ambu yang masih kaku. Yuk sayang. Bisakan? Pelan-pelan ya kasih tahu ambu apa maunya ade."

Ajaib, tangis Tian pun reda. Saya bisa menyusui Tian kembali. Baru beberapa menit kemudian saya sadar ternyata Tian gak suka dengan puting kiri saya. Rupanya puting kiri saya kurang panjang dan enak di lidahnya dibandingkan yang kanan. Sayapun tidak memaksakan Tian menyusu dari Pd Kiri. Untuk bisa menyusui denga PD Kiri, setiap kali hendak menyusui saya harus memompa dulu putingnya hingga lebih berbentuk seperti puting PD Kanan.Kemampuan membaca apa yang diinginkan bayi inilah hasil nyata Getle Birth bagi saya.

Oh ya, saya ingat saat seminar Gentle Birth di Bandung, ada seorang ibu yang bertanya apakah benar bayi Gentle Birth itu gak bikin ibu bapaknya begadang? Saat itu mbak Prita bilang, iya.Entah gimana kok saat itu saya merasa kita sebagai orang tua kok egois ya hahahaha. Kesannya pengen enaknya aja sampai gak mau juga kebagian begadang. Padahal dede bayikan punya jam biologisnya sendiri yang gak bisa diatur semaunya sama orang tuanya? Atau barangkali baby punya keinginan yang gak dimengerti oleh orang tuanya.

Saya paham bahwa proses kelahiran Tian masih jauh dari Gentle Birth. Tapi bagi saya, Gentle Birth sudah mengajarkan saya untuk lebih bisa paham bagimana menghadapi kehamilan, proses melahirkan dan sesudahnya. Tian kini sudah tumbuh besar. Meski tubuhnya tidak gemuk bahkan cenderung kurus, Tian sanagat aktif dan cerdas. Dia sudah bisa berjalan di umur 9 bulan. Hafal lebih dari 20 lagu-lagu anak dan surat Al Fatihah di usia 22 bulan dan yang jelas yang mebuat saya bangga adalah Tian selalu bisa menghibur saya di kala saya sedih. Beberapa kali saat setelah sholat saya menangis, Tian langsung memeluk dan mengelus punggung saya. Ahhhh terima kasih Tuhan. Malaikat mu suda turun di rumah kami.




Wednesday, February 1, 2012

mimpi, dingin dan dosa

kali ini saya akan kembali berkisah tentang seorang teman. bukan sahabat namun juga bukan musuh. ia bukan tipe perempuan yang senang dan rela membagibagi kisah hidupnya pada siapa saja. termasuk pada saya. namun saya pikir itu hak semua orang. lagian rasanya tidak ada orang yang benarbenar mengenal orang lain. bahkan mungkin diri sendiripun tidak. dan sebagai orang yang suka menyebut dirinya "pengamat prilaku sosial", saya selalu senang menyisihkan telinga untuk mendengar kisah kehidupan siapa saja yang berkenan bercerita.

sepintas lalu hidupnya tampak sempurna. ia punya segalanya. bahkan kini ia tengah mengandung anak pertamanya. dua bulan setelah ia menikah tuhan memberi ia dan suami anugerah terbesarnya.

"aku gak tahu harus bagaimana. rasanya dosa banget tapi aku juga gak tau bagiaman caranya menghentikan ini semua". ia memulai kisahnya lengkap dengan linangan air mata. saya hanya bisa diam melihat mata itu penuh dengan linangan air mata.

"aku bukan orang yang haus akan sex. aku juga bukan pengidap hipersex. kalau aku begitu pasti sudah tak terhitung berapa banyak lakilaki yang sudah aku ajak tidur setiap kali aku ingin berhubungan sex". ah....masalah itu lagi. saya hanya bisa tersenyum dan mengingat kisah lain dari teman yang lain.

"tapi aku hanyalah seorang perempuan. yang butuh disayangi. butuh diperhatikan dan butuh merasa diinginkan. entahlah...apa hanya kerana aku sedang hamil maka rasanya semua begitu sakit seperti ini", ujarnya masih penuh dengan air mata. hey friend i don't blame you if you do feel like that. you just being human.

meluncurlah kemudian kisah dari bibirnya diselingi isaknya.

rupanya kawan saya ini merasa tidak diinginkan oleh suaminya. sang suami benarbenar menjadi orang yang "dingin" baginya. ia dan suami memang tinggal terpisah kota. jadwal bertemu seminggu sekali ternyata tak jua mampu membuat sang suami lebih "hangat" padanya. "boroboro bilang kangen. nyium atau meluk aja susah banget. kalau bukan karena akunya yang ngelakuinnya duluan", sanggahnya ketika saya bilang mungkin lebih baik kalau ia yang memulainya lebih dulu.

"diakan tahu aku lagi hamil. dia juga tau janin sebesar ini sudah harus diberi stimulus sama orang tuanya. diajak ngobrol atau diusapusap biar anaknya kenal. ini mana? ngusapin perut aja kalau gak diambil tangannya mana mau. dibilang suruh ajak ngobrol anaknya. ada aja alesannya. intinya sih engga mau. dinginnnn banget orangnya. malahan waktu dia pegang perut terus anaknya nendangnendang dia malah gak ngerasain. sekalinya ngerasain lempeng aja mukanya. gak ada bahagiabahagianya. sebetulnya dia mau gak sih punya anak?"

hmmm...keluar juga akhirnya kalimat itu. saya sudah menunggu sedari tadi akankah pertanyaan retorik itu keluar. dan ternyata iya.

karib saya terus menangis. ia bilang ia tahu banget kalau ia bukanlah tipe perempuan yang selama ini dipacari sang suami. oriental look, dengan wajah memelas nan lemah gemulai seakan membutuhkan dunia untuk memeluknya, juga tak ketinggalan tubuh mungil dengan kulit putih. ahh perempuan. selalu saja merasa terintimidasi oleh golongannya sendiri. tapi itu fakta dan juga kenyataan yang ada. baiklah....kita tinggalkan saja seputar intimidasi ini dan berlanjut pada kisah kawan saya.

kawan saya berkisah suaminya memang lakilaki yang baik. bersama dengan sang suami ia percaya hatinya tidak akan terluka lagi. sang suami bukanlah tipe don juan yang senang membagibagi cintanya pada perempuan mana saja. itu salah satu hal mengapa ia akhirnya memutuskan untuk menikahi sang suami. kalau soal lempeng jaya menurutnya memang sudah terlihat sejak pertengahan mereka jalan bareng. "dan itu juga yang bikin kami sering berantem. dia gak bisa banget menyampaikan apa maunya dan apa yang ia rasa. sementara aku orang yang sangat ekpresif".

diawal hubungan mereka saat sang suami (yang waktu itu statusnya masih pacaran) masih tinggal di ujung timur Indonesia. hubungan mereka tidak sedingin ini. dalam sehari sang suami bisa mengirimkan banyak katakata indah nan manis penanda suatu hubungan yang bergelora. sang suami masih menurut karib saya setiap bertemu juga selalu tak mau melepaskan pandangannya dan pelukannya dari kawan saya ini. "layaknya orang pacaranlah", tuturnya tersipu. namun semua berubah justru setelah ia kembali ke tanah jawa dan mereka bisa bertemu seminggu sekali. sang suami malah berubah menjadi orang yang dingin.

efek dingin sang suami ini ternyata sangat berat buat teman saya ini. dia tau persis saat hamil dia dilarang keras untuk stress. tapi ternyata sumber stress dia justru berasal dari hubungannya bersama suami.akhirnya samapailah ia pada inti cerita dari kesedihannya ini.

rupanya hampir setiap malam ia terbangun dan menangis. bukan saat ia menghadap sang khalik untuk memujanya. namun justru di saat lain. di kala kantuk tengah datang dan menderanya. tangisan yang hadir hampir setiap malam ini datang dari mimpimimpi yang terus menghantuinya. teman saya ini rupanya kerap kali bermimpi memadu kasih dengan lakilaki lain. dia tak bercerita panjang lebar mengenai mimpinya. hanya dari ceritanya saya bisa menyimpulkan ia kerap kali bermimpi berpelukan dan bahkan berciuman dengan lakilaki yang ironisnya bukanlah suami yang jauh dari pandangannya itu.

"sungguh aku takut sekali. aku takut berdosa. setiap malam saat mau tidur aku selalu takut kalaukalau malam ini akan bermimpi yang sama. itu sebabnya seringkali aku memaksakan diri terjaga agar nantinya aku bisa tidur lelap dan tak bermimpi. aku gak mau begini. aku aku mau yang hadir dalam mimpiku suamiku sendiri. ayah dari anakku. aku takut...."

tangisan itupun kembali pecah dan kali ini saya merasakan sekali kepedihan dalam isak tangisnya.

saya tak tahu harus berkata apa. sungguh. karena saya benarbenar tak mengerti bagaimana memecahkan masalahnya ini.  diam sayapun lebih karena saya tak tahu apa artinya dosa. siapa saya hingga berhak menghakimi seseorang berbuat dosa atau tidaknya? siapa saya yang berhak menentukan nasib seseorang berakhir di neraka maupun surga? 

saya cuman bisa memeluknya. rasanya itu yang paling dia butuhkan saat ini.
belaian lembut, pelukan hangat dan kembangan senyum serta sedikit katakata manis. hal sederhana yang bisa diberikan oleh satu manusia pada manusia lainnya. namun ternyata hal itu justru terlampau sulit diberikan. bahkan oleh pasangan kita sendiri. terlampau banyak orang yang tak mampu lagi mengerti pada arti cinta yang sebenarnya. terlampau banyak orang yang mematikan rasanya sendiri hingga kemudian menganggap orang lain pun seolah sama. tak membutuhkan kasih sayang. sebuah rasa yang diberi tuhan dengan sangat indahnya pada manusia namun ternyata seringkali diabaikan oleh manusia itu sendiri.

terkadang kita lupa mengatakan apa yang kita rasakan bahkan pada orang yang paling kita kasihi dan cintai sekalipun. terkadang kita lupa bahwa masih banyak jiwa yang membutuhkan kesegaran dari indahnya kalimat "aku sayang kamu", "i love you", bahkan kata "saya butuh kamu". kita terlalu enggan untuk terlihat lemah. padahal sungguh, menyampaikan dan mengatakan halhal manis seperti itu bukan kelemahan. tapi justru penanda dari kekuatan kita. kita adalah manusia yang kuat yang berani untuk menyatakan apa yang kita rasa tanpa menjadi sungkan ataupun malu karenanya.

ahhh...saya jadi teringat ucapan dumbledore. tokoh idola saya di cerita harry potter. seorang kepala sekolah tua nan bijaksana.di malam sirius black meninggal ia mengatakan satu hal yang sampai hari ini saya ingat jelas. dan bahkan saya sering mengatakannya pada mr rius jika ia sudah mulai memperlihatkan kemisteriusannya lagi.

Ketidakpedulian dan pengabaian sering lebih menyakitkan daripada ketidaksukaan sekaligus ...-Albus Dumbledore-

dan kini itu terbukti hadir di kehidupan teman saya.


Monday, January 30, 2012

tanpa judul

apa yang lebih buruk. bersama karena kasihan atau bersama karena kewajiban? 

sejujurnya? entahlah. saya tak tahu jawabannya. terlalu berat kepala ini memikirkannya. walaupun saya ingin menemukan jawabannya tapi separuh dari hati saya juga justru tak ingin menemukan jawabannya.

mungkin karena saya terlalu takut. mungkin juga karena saya tak siap dan tak akan pernah siap.

yang saya tahu kalau saya ingin bersama dengan seseorang itu pastilah karena sebuah alasan yang sangat kuat. bukan sekedar seadanya. bukan sekedar sedapatnya. bukan sekedar melewatkan masa. bukan pula sekedar menambal kekosongan.

tapi itu saya. bukan kamu. juga kamu. terlebih dia dan mereka.

Wednesday, January 18, 2012

it is really a hardwork

 “Marriage is Hard Work”. Is very true, right… marriage is very very hard work full of effort we put in marriage life. Full up and down, sad, disappointed, confuse, happy, mix together in one big bowl. It doesn’t come easy.


What does a marriage means? Some people say it is a status, some will say it is a process, some also say they will only get married when they are pregnant. Whatever the answer that is going to be, I am sure not all understand the true meaning of marriage.

The fact is marriage is a lifetime commitment. It takes two people to make the love perfect. Two lovestruck people get married because of their deep love and admiration, but when both are unable to deal with each other’s weaknesses, they will find their marriage very hard to maintain.

Friday, September 23, 2011

#2 month

its being second month. and we start the day with a fight. horrrayyyyy.....

i've been ironic. that's ok. with this he shows that he's really are human. not some kind a snowmen.

so, this month i will say goodbye to you. we have to separate for a while. thank you for being my garbage.

Tuesday, August 16, 2011

ketika filsuf bicara cinta

Suatu saat, Plato bertanya kepada gurunya, Socrates.

“Wahai guru, apakah hakikat cinta itu?”

Alih-alih memberikan jawaban, Socrates malah menyuruh muridnya

“Sekarang kau pergilah ke hutan di sana. Carilah satu ranting yang menurutmu paling bagus. Apabila kau sudah menemukannya, artinya kau sudah tahu apa itu cinta”.

Pergilah Plato menuju hutan. Di dalam hutan dia menemukan banyak ranting, berjam-jam dia memilah-milah mana ranting terbaik. Setiap kali dia menemukan ranting yang menurutnya terbaik, baru beberapa langkah berjalan, dia meletakkan ranting yang tadinya dianggap terbaik dan mengambil ranting yang lain, yang dianggapnya jauh lebih baik. Hingga akhir sore tiba, socrates keluar dari hutan menemui gurunya.

“Setiap aku melangkah, selalu kutemui ranting yang lebih bagus. Aku ingin membawa pulang semuanya, tapi yang kau izinkan hanya satu sehingga membuatku bingung menentukan mana yang terbaik. Setiap kumelangkah, selalu ada ranting yang lebih bagus. Aku selalu mencari kesempurnaan tapi hasilnya aku tak pernah puas.”, tukas Plato.

Socrates menjawab, “Itu lah cinta”.

Plato masih penasaran dengan satu hal, pernikahan. Dia berencana esok akan bertanya kepada gurunya.

“Wahai guru, apakah hakikat pernikahan itu?”

Sama seperti kemarin, Socrates tidak memberikan jawaban namun menyuruh Plato.

“Sekarang kau masuk ke dalam hutan. Carilah pohon yang menurutmu paling kokoh kemudian tebanglah dan bawa padaku. Jika kau menemukannya, maka kau telah tahu apa pernikahan itu”.

Plato masuk ke dalam hutan dan beberapa saat saja dia kembali membawa sebatang kayu yang bisa dikatakan biasa-biasa saja.

“Kenapa kau bawa sebatang kayu itu?”

“Wahai guruku. Berdasarkan pengalamanku sebelumnya, aku tahu aku takkan pernah mendapatkan apa yang sempurna untuk diriku. Ketika aku melangkah masuk ke dalam hutan dan kupandangi pohon-pohon, pohon dari batang kayu inilah yang menurutku terbaik. Kalau aku melangkah masuk lebih dalam lagi, aku yakin pasti ada pohon yang lebih baik daripada yang ini namun aku tahu aku takkan pernah puas. Jadi kuputuskan untuk mencari pohon yang terbaik dari sekumpulan pohon yang pertama kali kulihat dan kuyakini bahwa pohon inilah yang terbaik.”

Socrates tersenyum, “Sekarang kau sudah tahu apa hakikat pernikahan itu”.

Ketika kau mencari kesempurnaan dalam cinta, sesungguhnya kau telah mensia-siakan cinta itu sendiri.

Karena kesempurnaan itu hampa adanya.

Tuesday, February 1, 2011

Freak Out

Hari ini ketakutan saya tiba-tiba muncul lagi. Ketakutan soal masa depan hubungan saya dan mr rius. Iya, saya memang kerap kali memanggilnya mr rius. Lebih buat menunjukkan bagaimana dia dulu saat kami belum jalan bersama. But that would be another story.

cerita kali ini lebih pada ketakutan saya dan mungkin banyak orang bakalan menertawakan ketakutan saya ini. Tapi sungguh saya benar-benar merasa ketakutan itu tepat dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Ceritanya berawal dari Vypress yang disebarkan bos saya soal seorang perempuan (tampaknya dia penulis buku) yang mengumumkan perceraiannya dengan sang suami di Twitter. Bukan cuman pengumuman perceraiannya itu saja yang ia tulis, tapi ia juga menuliskan alamat blognya.

Intinya sih di blognya dia bilang pernikahan itu dengan sangat terpaksa harus diakhiri. Meski tak mengatakan siapa yang salah, dia hanya bilang semua hal yang mungkin jadi alasan sebuah perceraian berlaku pada pernikahannya. She said sh**t do happens in her marriage life. Di blognya juga ia bilang kalau ia gak akan menutup blognya lain. Sebuah blog yang ia buat (kalau bahasanya sih) mengingatkan saat-saat mereka saling mencinta satu sama lain dengan sangat.

Wow, saya suprise banget baca isi blog satunya. Them, they really are perfect couple. DAMN!!!

Blog itu cerita perjalanan pernikahan mereka. Mereka menikah Desember 2008. Dengan banyak kenangan yang ada. Membacanya membuat saya merasa bahagia dan sesaat kemudian tersadar semua itu berakhir. And...that really makes me freak out.(http://www.salsabeela.com/2011/02/01/its-over/ )

How come with love so perfect like them turns to be a sad ending? What went wrong? What about mine? What about my relationship with Mr Rius?

Di blognya  (http://unwinged.salsabeela.com ) mba itu cerita tentang pernikahan mereka. Ya, memang dia dan suaminya bagaikan langit dan bumi dengan perbedaan yang mereka miliki. Tapi itu hanyalah bumbu dari pernikahan mereka. Di salah satu postingannya ia bercerita bagimana sang suami memperlakukannya saat ia pulang kantor dalam keadaan kehujanan dan kedinginan. Atau bagaimana ia dan sauami selalu berbeda pendapat soal ac di kamar. You wouldn't imagine bad things will happens.

pertanyaan itu membawa saya pada ketakutan akan masa depan hubungan saya dan Mr Rius. Kami bukanlah pasangan yang sempurna. Mengutip kalimatnya, hampir tiap minggu saya menginginkan kami berpisah. Either karena saya terbawa suasana saat PMS atau saat saya waras. Bukan. Bukan karena saya tak mencintanya. Sungguh, saya mencintai Mr Rius lebih dari sekedar kata so much. Tapi saya juga (dengan berat hati) harus mengakui kami seringkali berbeda jalan.

Mr Rius seringkali mengatakan bahwa mungkin ia tak seperti harapan saya atau keinginan saya, jujur saya bisa bilang kalau saat saya menerima ia sebagai pasangan saya, tak ada keinginan apapun untuk mengubah ia. Saya sudah jatuh hati pada kegigihannya, saya sudah jatuh hati pada sikap dan sifatnya, saya juga sudah mencinta ia apapun jadinya ia. Iya saya rasakan pasti kalau ia sudah berubah banyak dari saat kami memulai ini bersama. Perubahan yang saya tak bisa menentukan apakah baik atau tidak. Yang jelas saya bisa bilang hingga hari ini saya masih sangat jatuh hati dan mencintanya sama sperti saat pertama kali ia mencium saya saat itu di ruang tamu rumah orang tua saya.

Bukan pula saya tak ingin mengerti mengapa hingga saat ini ia tak kunjung datang meminta saya pada orang tua saya. Saya paham banget dengan keadaannya. Dengan apa yang menderanya setelah ia kehilangan adik tercintanya. Mungkin jika itu saya, sayapun akan merasakan hal yang sama. Namun yang saya tak pahami adalah ia tak pernah dengan jelas mengatakan apa yang ada di pikirannya. Bagi saya ia masih semisterius dulu saat kami belum bersama.

Bukannya tanpa usaha saya mencoba mengeluarkan ia dari dunianya, tapi tampaknya setiap satu tembok runtuh maka ada tembok lain yang dibangunnya. begitu seterusnya. Hingga kemudian saya merasa terlalu lelah. Sungguh, saya begitu merasa takutnya menatap masa depan hubungan kami. Would there will be still us or just him and me?

Cinta yang begitu sempurna empunya blog itu saja bisa hilang bagaimana dengan kami?

saya begitu takut karena saya tak mau lagi merasakan hari-hari panjang sendirian. Saya juga sudah sangat bergantung padanya. Dia adalah teman berbincang terbaik bagi saya saat ini. Saya sangat menikmati setiap saat menunggu ia pulang dari kantor, menyiapkan pakaiannya, sarapannya dan segala macamnya (bukan karena ia manja tapi lebih saya yang ingin menikmati menjadi pasangannya). Saya juga menikmati setiap saat untuk memasak buatnya (meski mr rius sering bilang repot amat masak). Intinya, saya menikmati saat bersamanya. Itu sebabnya saya takut jika ternyata apa yang saya impikan (sejak saya mulai menyadari saya jatuh cinta padanya) tidak tercapai. Saya hanya ingin hidup bahagia bersama mr rius. Membentuk keluarga kami sendiri. Bisa menjadi orang pertama dan terakhir yang ia lihat di setiap harinya.

Tapi sungguh saya juga takut. Takut sekali.Can somebody help me?

Thursday, January 27, 2011

Jodoh

Siang ini kami se-kantor disuguhi tontonan yang asyik dari tv yang dipasang di ruang redaksi. Sebetulnya gak spesial sih tayangannya. Yang bikin spesial adalah yang jadi tokoh di program itu. Bikin menarik lagi karena temanya itu. Apalagi kalau bukan masalah jodoh. :D

Ceritanya sih kami dapat multi recipient vypress chat dari mantan bos saya di Green. Dia bilang "eh ada gw di Trans7". Tau dong kami suka iseng dan ikut seneng kalau salah satu temen ada yang tenar dan lalu masuk tipi? Nontonlah kami di 2 buah tipi yang ada di ruang redaksi. Berhubung tipi tepat di belakang kubikel saya, saya dapat posisi yang paling nyaman buat nonton si bu boss beraksi di tipi.

Tiba deh waktunya buat tampil selepas iklan. Oalahhh ternyata yang lagi dibahas adalah masalah penipuan dengan modus operandi biro jodoh toh.

Dikisahkan si bu boss ini sudah sampai red alert usia buat perempuan alias belum juga merit. Nah dari hobinya yang chat di dunia maya, ibu bos pun ikut lah sebuah biro jodoh di internent. Katanya sih nyantol tuh sama orang di London sono. Merekapun sering bertelepon ria dan pada ujungnya janjian buat ketemu. Si cowokpun resmi melamar dia. Namun entah bagaimana si cowok ini saat tiba waktunya buat ketemuan di bandara malah ada di bandara Ngurah Rai dan bukan bandara Soetta. Wuihhhh salah bandara tuh. Saat itulah bu boss curiga ada yang salah dengan orang ini. Orang itu sempet bilang kalau dia lagi bermasalah dengan bagian imigrasi di Ngurah Rai. Entahlah beritanya g tuntas juga ngasih tau kenapa si ibu menafsirkan kalau dia hampir jadi bagian penipuan berkedok biro jodoh ini.

Yang bikin rame justru bukan berita itunya atau kemunculan si ibu tapi lebih karena komen jahil temen-temen. Dari mulai komen soal tampilannya si ibu sampe insiden bandara. Nah ini dia ujungnya soal betapa si ibu tampak desperado sampe harus masuk biro jodoh segala. Ini sebetulnya dipicu sama komen terakhir di tipi itu yang bilang "gagal lah lagi impian Nita buat menikah"... gubraksssss!!!!!!!!!!!!!!
Dengan teman-teman jurnalis yang jahiliyah tau lah kata-kata begitu berakhir dimana? Munculah vypress buat ngajak semua anggota komunitas buat promosiin si ibu di semua jejaring sosial kita. Huahahaha segitunya ya?

Namun ada yang mengusik dan seperti membangunkan makhluk di dalam dada saya saat seorang teman bilang; "tuh chie, lu juga ikutan aja". Busyettttt dah!!!

Tapi sungguh apa yang dibilang sama teman saya itu benar-benar kena. Saya dan bu boss tidak terpaut jauh usia kami. Jadi kalau dia sudah red alert berarti saya juga sudah masuk ke area itu. Namun bisa dibilang hingga saat ini tanda-tanda ke arah itu tampaknya masih jauh panggang dari api.

Saya ingat banyak sekali pertanyaan seputar itu setiap kali saya datang ke acara keluarga. Itu sebabnya saya berusaha mati-matian untuk tidak menampakkan batang hidung ke setiap acara keluarga (yang saya tahu pasti bakal ada pertanyaan begitu). Saya juga mulai menjarangkan bersosialita dengan sodara maupun teman di acara nikahan. Bukan. Bukan berarti saya gak mau menikah, berkeluarga dan memiliki anak. Tapi saya juga tidak bisa memaksakan kehendak pada yang mengatur hidup, jika Ia dengan kausaNya masih belum memberi saya teman buat membahagiakan saya lahir batin.

Bukannya saya tidak punya pasangan saat ini, namun tampaknya either one of us is still afraid for being go further alias kami masih terlalu berat pada banyak hal. Ia dan kesedihannya karena kehilangan adik yang dicintainya. Saya dan trauma masa lalu hubungan saya. Jujur, saya masih trauma pada apa yang pernah saya hadapi. Ketika semua cinta, kasih sayang, perhatian, telah seluruhnya diberikan tapi berakhir dengan luka dan airmata, kecewa dan pengkhianatan. Mungkin kami hanya 2 orang yang terlalu takut melangkah. Terlalu takut mencoba. terlalu takut pada berencana dan membangun impian.Atau mungkin malah Tuhan punya rencana lain bagi kami. Rencana yang saya tidak tahu akan kemana berakhirnya.

Satu hal yang jelas saya tidak akan pernah menikah hanya karena sebuah "keharusan". Keharusan karena apa yang sudah terjadi antara kami berdua. Saya juga tidak ingin menikah hanya karena "panas telinga", mendengar rekan-rekan saya akan melepas masa lajangnya tahun ini. Saya tahu Tuhan menyayangi saya. Itu sebabnya Ia menjauhkan saya dari laki-laki busuk (maaf mengumpat :)) itu sebelum kami melangkah lebih jauh. Makanya saya yakin Tuhan pasti punya rencanaNya sendiri mengapa sampai saat ini tak kunjung Ia dekatkan saya pada jodoh saya. Kalaupun semua tak seperti yang saya inginkan, itu berarti bagiNya yang terbaik adalah saya tetap sendiri. So be It.